Kenapa Orang Suka Membully? - Sekarang ini kita hidup pada era dimana kebanyakan masyarakat seakan "hobby" untuk membully. Satu kesalahan kecil dari seseorang bisa menjadi bahan olok-olok bagi orang lainnya. Bahkan tidak jarang cacian dan makian yang seharusnya tidak perlu pun dilontarkan pada orang yang bersangkutan.
Social media adalah tempat yang paling sering digunakan untuk membully sesama. Berdasarkan apa yang mimin lihat, sifat "anonimus" dari social media ini membuat orang yang menggunakannya merasa "aman" untuk melontarkan segala opini secara bebas hingga nilai dari opini tersebut bukanlah lagi bisa dianggap sebagai sebuah opini melainkan lebih ke arah menghakimi.
Toh gak ada yang tau sebenernya aku ini siapa. Toh gak ada yang kenal aku di dunia nyata. Toh gak ada yang tau keberadaanku sekarang.
Sayangnya semakin banyak orang yang melakukan bullying di social media karena sebagian dari mereka merasa bahwa itu mengasyikkan dan ada kepuasan tersendiri jika mereka sudah berhasil membuat orang lain merasa terpojokkan. Dan biasanya sebagian dari mereka yang suka mem-bully adalah orang yang dulunya juga pernah menjadi korban bullying. Sebagian lain adalah orang yang kurang mendapatkan perhatian di masyarakat, merasa terkucilkan dan terpinggirkan di dunia nyata sehingga mereka melakukan aksi bullying yang akan membuat mereka merasa besar. Dan seperti yang sudah mimin bilang tadi, social media dipilih karena sifatnya yang anonimus.
Hampir semua orang itu tidak akan berani melakukan hal yang sama ketika bertemu secara fisik di dunia nyata.
Faktor lain yang menyebabkan orang suka membully salah satunya adalah mereka merasa lebih pintar dan lebih benar. Contoh kecilnya adalah postingan yang mimin temukan ini :

Tidak jarang mereka yang bertanya dianggap bodoh, tolol, dungu dan semacamnya. Padahal mereka yang bertanya itu hanya ingin mendapat ilmu baru yang sebelumnya tidak mereka ketahui, namun yang mereka dapatkan bukannya jawaban yang membimbing melainkkan sebuah bully-an dari orang yang merasa lebih pintar. Pada contoh posting diatas sepertinya si penanya sudah paham bahwa mereka yang bertanya sering kali mendapatkan bully-an sehingga ia menyematkan kata "tolong jangan di bully y".
Gitu aja nanya, coba cari dulu di gugel (Padahal jawaban yang kita dapat dari gugel terkadang tidak sepenuhnya benar dan memuaskan bukan?)
Yaelah itu kan gampang banget, ngapain harus nanya? (Padahal kan ilmu yang dimiliki orang tidak sama?)
Akan sangat disayangkan jika budaya cacat mental seperti ini terus dilestarikan, dan percaya atau tidak hal ini akan berdampak buruk pada kehidupan sosial seseorang baik bagi mereka yang di bully ataupun mereka yang membully. Selain akan menjatuhkan mental, ini akan mengurangi tingkat kepercayaan orang terhadap orang lain. Apa jadinya jika nantinya tidak ada lagi orang yang saling percaya? Apa jadinya jika nantinya dunia dipenuhi oleh orang cacat mental yang suka membully? - Mas Bocah
Komentar
Posting Komentar