Kamis, 25 Juni 2015

Cucu Durhaka, Contoh Tidak Baik Di Masyarakat

Cucu Durhaka, Contoh Tidak Baik Di Masyarakat - Dunia semakin kejam, itulah yang pertama kali aku pikirkan setelah menemukan foto postingan yang aku cantumkan dibawah ini. Entah siapa yang mengambil dan mengunggah foto ini, ia bercerita bahwa ia melihat seorang bocah bersama dengan neneknya sedang naik angkutan umum. Singkat cerita ketika mas-mas kenek nagih ongkos, si bocah ini hanya membayar untuk dirinya sendiri.

Foto cucu durhaka
Walhasil si nenek pun kebingungan. Tapi yang menyebalkan adalah sikap dari si bocah ini yang seakan.. Gak punya hati.. dengan berkata pada neneknya :
"Bawa duit gak? Nyusahin.."
Setelah itu mending kek ya kalo langsung dibayarin, ternyata nggak. Sampai-sampai menurut keterangan yang ada di foto ini, si nenek itu akhirnya dibayari oleh mbak-mbak disebelah nenek itu duduk. Dan kemudian si bocah dengan santai dan sedikit muka manyun mengambil hape dan bermain-main dengan hapenya.

Oke, sebenernya aku gak kepengen nge-bully ini anak, tapi ini keterlaluan! Aku gak tau kenyataannya gimana, apakah memang bocah ini merupakan cucu dari si nenek atau anak tetangga yang nyebelin yang harus mengantar si nenek ke suatu tempat. Aku juga gak tau apakah apa yang diceritakan itu benar-benar terjadi atau nggak. Yang pasti ini contoh yang sangat tidak baik di masyarakat. Berdasarkan apa yang aku lihat, memang belakangan ini "kemunduran sikap bersosial" memang tengah terjadi.

Dan sudah pasti, sikap bocah ini mencerminkan bahwa ia kurang mendapatkan pendidikan moral yang baik dari orang-orang disekitarnya. Iya, anak kecil apalagi yang seumuran bocah ini memang cenderung mudah meniru apa yang mereka alami, apa yang mereka dengar dan apa yang mereka lihat. Dan disini, peran orang tua sangatlah penting jika tidak ingin anaknya bersikap seperti itu terhadap orang lain. Tapi pendidikan dari orangtua bukan hanya sebatas memberitahu "kamu gak boleh begini, kamu gak boleh begitu", tetapi juga turut memberikan contoh yang baik bagi mereka. Iya, contoh yang baik.

Seperti yang aku bilang diatas, anak seumuran itu biasanya sangat mudah mencontoh apa yang dilihatnya. Maka sebagai orang tua, kita patut memberikan contoh yang baik sebagai panutan mereka. Pernah denger pepatah yang mengatakan bahwa "buah jatuh tak jauh dari pohonnya"? Gimana anaknya mau baik kalo orangtuanya gak baik? Gimana anaknya mau jujur kalo orangtuanya mengajarinya berbohong? Itu contoh sederhananya.


Bukan hanya itu saja, apa yang mereka lihat dalam hal tontonan pun bisa mereka jadikan contoh dalam bersikap, dalam hal ini adalah tayangan di televisi. Anak-anak kecil jaman sekarang disajikan dengan acara-acara gak mutu yang membuat hidup mereka pun gak bermutu karena mereka mencontoh apa yang tidak bermutu. Sinetron yang menampilkan cinta-cintaan, drama-drama yang tidak jelas dan tidak membawa manfaat adalah tersangka utamanya. Apakah itu pantas jadi bahan tontonan untuk anak kecil? Sedangkan kartun-kartun yang seharusnya jadi tontonan untuk anak-anak malah dikurangi satu persatu dan dianggap tidak layak.

Dan disinilah para orang tua harus berperan. Mencegah anak kecil menonton acara yang memberi contoh buruk akan mengurangi resiko anak untuk meniru hal yang buruk. Dan rasa-rasanya memang sangat perlu bagi orang tua untuk tidak memberikan gadget (smartphone) jika anak masih usia labil (sebelum SMP). Karena dari apa yang aku lihat, kepribadian anak itu terbentuk atau terpengaruh dari beberapa hal :
  • 20% sikap orang tua yang ditiru
  • 20% meniru hal yang mereka lihat
  • 40% terpengaruh oleh pergaulan
  • 20% kesadaran mereka sendiri
Seperti yang kita tau bahwa smartphone adalah alat yang dapat "mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat" dan ini sangat berbahaya bagi anak labil. Pengaruh komunikasi dalam pergaulan sudah bergeser kesini, dan ini akan mempercepat perubahan sikap anak karena mereka dapat berkomunikasi secara bebas dengan lingkaran pergaulan mereka melalui smartphone. Gapapa sih anak kita dianggap jadul, kurang update atau kurang gaul, daripada mereka terkena pengaruh buruk dari pergaulan yang super bebas seperti sekarang ini.

Dan lagi, "cucu durhaka" yang ada di awal postingan ini menurutku adalah contoh buruk dari kombinasi dari segala keburukan yang bisa diterima oleh anak sehingga "menghasilkan" sikap yang membuat orang lain ingin menimpuknya dengan sendal. Dan jika kamu yang membaca postingan ini adalah anak yang seumuran dengan bocah diatas, mimin ingin berpesan :

Coba kamu bayangin gimana kalo misalnya nenek itu adalah kamu, gimana perasaanmu? Apa enak digituin sama orang lain? Apa seneng digituin sama cucu sendiri?

Jangan bilang "ah aku kan masih muda, jauh dari umur nenek itu" karena suatu saat kamu pasti akan tua juga, itupun kalo kamunya gak mati duluan masih diberi umur panjang sampai bisa merasakan jadi nenek-nenek. Jangan mencubit kalo gak mau dicubit, jangan menghina kalo gak mau di hina. Maka jagalah sikapmu terhadap orang lain, perlakukan orang lain seperti kamu ingin diperlakukan. Kurang paham? Silahkan baca lagi sampe ngerti yaa..